UTS kritik dan esai cerpen Sulastri Dan Empat Lelaki.
Cerpen Sulastri Dan Empat lelaki merupakan salah satu cerpen karya Shoim Anwar. Setiap cerpen tentunya memiliki karakter masing-masing disetiap isi cerita begitu pula dengan maknanya. Cerpen Sulastri ini berbeda dan sangat menarik, dari segi imajinasi cerpen ini mampu membawa pikiran kepada kehidupan sehari-hari, dimana apa yang diceritakan seperti sesuatu yang terekam dan berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Terlihat pada bagian datangnya Musa dalam cerita ini, dimana Musa memberikan beberapa peringatan dan terdengar seperti tamparan sebuah pesan bukan kepada Sulastri saja tetapi kepada setiap masyarakat yang sudah membaca cerpen ini, seperti Musa memberi tahu bahwa pemerintah hanya memhon kepada masyarakat pada saat pemilu setelah itu mereka akan menjadikan kalian budak.
Cerpen Sulastri ini dapat dinilai atau dilihat dari beberapa nilai, yakni ideologi, politik, sosial, ekonomi, budaya dan religi.
Dilihat dari Nilai Ideologi
Ideologi merupakan pemikiran yang biasanya sering menyertai individu atau kelompok. Ideologi adalah istilah yang sudah tidak asing dalam ilmu sosial dan politik. Ideologi berkaitan langsung dengan struktur sosial, sistem produksi ekonomi, dan struktur politik. Ideologi adalah bagian yang membentuk pikiran, tindakan, dan interaksi masyarakat.
Secara ideologi bahwa cerita Sulastri dan empat lelaki ini memiliki ideologi yang cukup kuat dan luas, artinya fondasi dalam membangun cerita ini sangat kuat. Fondasi atau akar dari cerita ini adalah bagaimana masyarakat hidup dibawa perintah penguasa negara. Secara garis besar cerpen ini juga mengambarkan penyimpangan feminisme, dimana Sulastri sangat mengharapkan nafkah dari suaminya yang tak bertanggung jawab. Sulastri tidak mau berusaha, dia menggap jika menjadi seorang perempuan hanya bisa bekerja di rumah dan mengurus anak.
Dilihat dari Nilai Politik
Politik yakni berkaitan dengan permasalahan politik atau pemerintahan. Nilai-nilai politik umumnya muuncul sebagai kritik membangun atau koreksi terhadap jalanya pemerintahan dan upaya penyampaian aspirasi rakyat.
Nilai politik dalam cerpen ini sangat digambarkan secara kuat dimana, Musa menyampaikan bagaimana penampakan aturan dan wewenang pemerintah terhadap masyarakat dan negara. Pemerintah hanya memanfaatkan masyarakat untuk bekerja menghasilkan kekayaan bumi, lalu dengan menyalah gunakan wewenang dia merampas dan memakan hak-hak rakyat. Bukan hanya itu, demi sebuah politik lahan dan sawah masyarakat digusur lalu dibangun bangunan bertembok demi misi kepemerintahan.
Dilihat dari Nilai Sosial
Nilai sosial merupakan nilai-nilai yang didasarkan adat-istiadat yang dianut dalam masyarakat sosial setempat, tentang pantas/tidak pantas, baik/buruk suatu Tindakan.
Seringkali dalam masyarakat kita kurang menyadari atau kurang menarpakan nilai sosial. Nilai sosial yang digambarkan dalam cerpen Sulastri ini adalah bagaimana perlakuan polisi yang angkuh dan tidak punya hati disaat Sulastri dikejar oleh Firdaus, dia hendak meminta tolong kepada polisi tapi polisi itu hanya melihat tapi tidak bisa menolong Sulastri.
Dilihat dari Budaya dan Religi
Nilai budaya merupakan sebuah kebiasaan dalam masyarakat yang mengakar dan turun-temurun. Nilai religi merupakan nilai yang didasrkan dengan hukum dalam ajaran agama dan kitab suci.
Nilai budaya yang digambarkan pada cerpen ini mungkin dilihat dari keseharian Sulastri yang hanya mengurus rumah dan anak-anak, dan dia hanya berharap kepada uang kerja suaminya. Ini seringkali menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang masih belum sepenuhnya maju. Nilai religi yang ada pada cerpen ini adalah nilai yang buruk terhadap sikap dari suami Sulastri yang menyembah berhala, baginya bertapa adalah sebagai cara untuk mendapatkan kekuatan dan membuat hidupnya Makmur. Ini sangat menyimpang dari ajaran agama dan kitab suci.
Komentar
Posting Komentar