Kritik dan Esai puisi "Hantu Dermaga" dan "Hantu Musim"

 Kritik dan Esai kali ini membahas dua puisi sekaligus yang merupakan karya dari Mashuri, yang berjudul “Hantu Musim” dan “Hantu Dermaga”.

Yang pertama akan dibahas puisi “Hantu Musim”

Puisi ini jika dibaca dan didalami terdapat suatu makna yang mengikat yakni sebuah kerinduan. Perasaan rindu memang sering membawa kita pada situasi batin yang risau atau galau. Bagaimana caranya agar rasa galau tersebut tidak melanda dalam pikiran? Tentu saja rasa rindu harus disalurkan atau disampaikan. Tapi bagaimana jika rindu itu untuk seseorang yang sudah kealam baka (sudah meninggal)? Caranya adalah menyampaikan rindu lewat doa dan berdoa untuk kebahagiaan mereka pada tempat yang baru (disisi Tuhan YME).

Pada puisi “Hantu Musim” digambarkan suasana pada saat menghabiskan waktu dikala bersama dulu. Pada kutipan “aku hanya musim yang dikirim rebah hutan kenangan-memunggut berbuah berbuah, dedaunan, juga ungags-yang pernah mampir dipinggir semi semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut pertemuan awal…”dst.

Penulis menggambarkan sebuah suasana dalam kutipan tersebut mengandung makna yang mendalam, tentang sebuah pertemuan awal yang akhirnya menjadi sebuah kenangan dan menyisakan rasa rindu.

Pada kutipan terakhir yakni “di situ, aku panas, sekaligus dingin sebagaimana ungags yang pernah kita lihat di telaga, tetapi bayangannya selalu mengirimkan warna sayu, kelabu dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya…”dst.

Pada kutipan tersebut digambarkan Susana hati yang meranah, merasa diri disekati dengan musim yang berganti-ganti seolah  harapan tak ingin dipisahkan saat Bersama terkambar pada saat itu. Setiap musim pasti berganti, begitu pun dengan cerita dan kondisi hidup manusia.


Yang kedua akan dibahas puisi “Hantu Dermaga”

Puisi Hantu Dermaga ini menggambarkan tempat terakhir dari perjalanan Panjang atau Dermaga peristirahatan terakhir (kematian).

“dermaga

Ia hanya titik imaji

dari hujan yang berhenti

serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal terlambat di terminal awal”

Kutipan tersebut menggambarkan tentang sebuah pengadilan, pengadilan akhir pada dermaga peristirahatan kelak. Apakah amal ibadah kita sudah cukup semasa hidup atau kurang atau sangat kurang/buruk. Semua yang dilakukan semasa hidup akan diperhitungkan. Hal tersebut akan menentukan apakah kita layak untuk masuk kedalam surga aatau neraka. Penyesalan dalam dosa tidak lagi jadi suatu pertimbangan pada saat kita sampai di dermaga tersebut.

“tapi ritusmu bukan jadwal hari ini dalam kematian, mungkin kelahiran kedua

Segalanya mengambang bak hujan yang kembali merki pantai”

Kutipan tersebut menggambarkan tentang bagaimana kesiapan kita menghadapi kematian jika waktu telah tiba. Rencana yang Kuasa tidak ada yang tahu, semuanya akan pulang jika Dia sudah menetapkan waktu bagi kita. Orang yang terselamatkan akan memperolah kehidupan kedua bersamaNya dan yang sebaliknya akan tinggal Bersama roh-roh jahat.


Komentar