Kritik dan Esai puisi "Sajak Palsu" karya Agus R. Sarjono
Kritik dan Esai kali ini sama seperti sebelumnya yakni tentang puisi. Tentunya kali ini berbeda karena puisi yang disajikan adalah puisi dari Agus R. Sarjono.
Setiap puisi yang ditulis selalu berdasarkan pengalaman atau imajinasi yang kuat sehingga memiliki makna yang terkandung dan mungkin menampakkan kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia sosial ditengah berbangsa dan bernegara.
Dalam puisi Sajak Palsu ini tentunya juga memiliki makna yang kuat yang menjadikannya sebagai perbandingan dengan keadaan masyarakat sekarang.
Kritik sosial tentunya ada dalam puisi Sajak Palsu ini, seperti pada puisi-puisi sebelumnya kritikan kepada oknum pemerintah masih menjadi perbincangan hangat dan sangat menonjol disetiap lirik puisi yang ada. Salah satunya juga pada puisi Sajak Palsu tersebut.
Puisi Sajak Palsu tersebut, berkaitan erat dengan kebenaran dan kejujuran. Kebenaran dan kejujuran ada fondasi yang utama dalam membentuk karakter seseorang atau fondasi yang utama menjadi seorang pekerja yang mengabdi untuk banyak orang. Dunia memang panggung sandiwara, semua memainkan peran dengan menggunakan topeng, mungkin orang dengan kejujuran yang tinggi dapat dihitung dengan jari pada dunia saat ini. Sebagian banyak berlomba-lomba untuk memuaskan keinginan pribadi dan mengorbankan banyak orang.
Fondasi yang kuat dan kokoh tentunya akan membuat bangunan tidak mudah runtuh dan hancur. Bandingkan dengan fondasi yang didasari kepalsuan, tentunya tidak akan bertahan lama. Sedikit demi sedikit pasti terkuak satu persatu. Contohnya korupsi, sekuat apapun para koruptor ujung-ujungnya pasti akan tertangkap. Mengapa demikian ? Karena bangunannya di bangun atas dasar tidak adanya kebenaran dan kejujuran. Hanya kepalsuan.
Sangat digambarkan pada puisi Sajak Palsu ini, semua digambarkan dengan jelas bagaimana watak dari setiap karakter manusia dimuka bumi ini.
Contohnya lirik puisi " mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu" nah, lirik puisi ini sangat membuktikan adanya karakter yang dibentuk sejak dini yang didasari kepalsuan. Sering kali kita mendengar dari orang-orang hebat dari negara ini, doa dan usaha kunci dari kesuksesan. Kesuksesan seperti apa yang hanya bisa dibeli dengan uang ? Apakah itu makna dari usaha ? Nilai sekolah bisa dibeli tanpa melihat kebenaran dari hasil kerja siswa. Semuanya diperbudak oleh uang. Kembali lagi fondasi yang kuat untuk membentuk manusia yang beradab adalah kebenaran dan kejujuran.
Komentar
Posting Komentar